Kamis, 09 Januari 2014

ARTIKEL ILMIAH


 Pentingnya Metakognisi dalam Membaca Komprehensif
Teks berbagai Bidang Studi
Oleh:
Beniati Lestyarini, FBS, UNY, 2010

Pendahuluan
            Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari kegiatan membaca. Kegiatan membaca dapat dipandang sebagai kegiatan dasar untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia agar dapat mencapai kemajuan hidup. Membaca adalah sebuah kegiatan sine quo non dalam seluruh proses pendidikan. Segala bidang baik yang berkaitan dengan ilmu maupun budaya tidak akan dapat dikaji dan diperoleh tanpa kegiatan membaca.
            Paradigma tentang hakikat dan tujuan pembelajaran membaca lebih menekankan pada kemampuan memahami teks bacaan. Pemahaman terhadap teks bacaan tersebut tentunya memiliki standar yang dapat dijadikan tolok ukur apakah pembaca benar-benar telah memahami dan menguasai kandungan teks bacaan (content area) atau belum. Pembelajaran membaca yang termasuk dalam pembelajaran bahasa menjadi satu hal yang pokok dan tidak bisa dikesampingkan oleh sekolah sebagai institusi pendidikan yang menjangkau perwujudan budaya literasi (baca-tulis) bagi siswa-siswanya.
            Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nida dan Harris (Tarigan, 1981: 1) bahwa keterampilan berbahasa mencakup empat komponen, yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), serta keterampilan menulis (writing skills). Keempat keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Namun keempat keterampilan berbahasa tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu komunikasi tatap muka serta komunikasi tidak tatap muka (Tarigan, 1981: 2). Komunikasi tatap muka terdiri dari keterampilan menyimak yang bersifat langsung, apresiatif, reseptif, dan fungsional serta keterampilan berbicara yang bersifat langsung, produktif, dan ekspresif. Sementara itu, komunikasi tidak tatap muka meliputi keterampilan membaca yang bersifat tidak langsung, apresiatif, reseptif, dan fungsional serta keterampilan menulis yang bersifat tidak langsung, produktif, dan ekspresif. Dari pengelompokan yang dikemukakan oleh Tarigan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan berbicara sangat erat kaitannya dengan kegiatan menyimak sedangkan kegiatan membaca sangat erat kaitannya dengan kegiatan menulis.
            Pada bagian sebelumnya telah dinyatakan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam mewujudkan budaya literasi bagi siswa-siswanya. Pembelajaran membaca khususnya pada siswa sekolah diupayakan sedemikian rupa dengan mengintegrasikannya dengan keterampilan menulis. Namun tidak tertutup kemungkinan pengintegrasian keterampilan membaca dengan kajian dari disiplin ilmu yang lain, misalnya psikologi. Hal ini dikarenakan oleh adanya proses-proses mental di dalam otak atau minda manusia yang terlibat ketika seseorang  berbahasa (Dardjowijojo, 2003: 7). Oleh karena itu, dalam ilmu bahasa interdisipliner dikenal psikolinguistik yang merupakan integrasi dari dua disiplin ilmu , yaitu psikologi dan linguistik.
            Keterampilan membaca yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa tentunya tidak dapat terlepas dari peranan psikologi dalam upaya pemahaman terhadap bacaan. Hal ini sejalan dengan uraian Baker dan Brown (Thierney, 1990: 302) mengenai kemampuan pembaca yang dikaitkan dengan psikologi pengajaran bahasa. Mereka menguraikan bahwa pembaca sebenarnya memiliki kemampuan metakognisi yang seringkali tidak disadari atau diketahui oleh pembaca sendiri. Kemampuan metakognisi ini sangat berperan dalam upaya untuk memahami materi bacaan.
            Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam mempelajari berbagai bidang ilmu. Hal ini dikarenakan bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengkomunikasikan berbagai bidang ilmu tersebut sehingga keterampilan berbahasa mutlak diperlukan. Tuntutan kebutuhan untuk menguasai berbagai bidang ilmu ini tentunya harus disikapi secara arif. Dalam bidang pengajaran, pengetahuan dan keterampilan berbahasa digunakan untuk mempelajari materi pelajaran (content area material) baik bidang ilmu sosial dan budaya seperti sejarah, ekonomi, geografi, bahasa dan sastra, maupun bidang ilmu eksakta  seperti fisika, matematika, biologi, dan kimia. Keterampilan membaca dan menulis merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh guru dan siswa untuk mempelajari berbagai bidang ilmu tersebut.
A.       Pengertian Metakognisi
       Secara etimologis, Istilah metakognisi yang dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan metacognition berasal dari dua kata yang dirangkai yaitu meta dan kognisi (cognition). Istilah meta berasal ari bahasa Yunani μετά yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan after, beyond, with, adjacent), adalah suatu prefik yang digunakan dalam bahasa Inggris untuk menjukkan pada suatu abstraksi dari suatu konsep. (Wikipedia, Free Encyclopedia, dalam Kuntjojo, 2009), sedangkan cognition, menurut Ensklopedia tersebut berasal dari bahasa Latin yaitu cognoscere, yang berarti mengetahui (to know) dan mengenal (to recognize). Kognisi, disebut juga gejala-gejala pengenalan, merupakan “the act or process of knowing including both awareness and judgement”. Merujuk pada kedua istilah tersebut, matakognisi dapat diartikan secara sederhana sebagai the process beyong the process of knowing atau proses didalam proses pengetahuan atau proses di dalam proses mengethui sesuatu.
Secara historis,  istilah metakognisi diperkenalkan oleh Flavel yang diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengontrol bermacam-macam aktivitas kognitif (Muisman, 2002: 24-26). Metakognisi terdiri dari pengetahuan metakognitif (metacognitive knowledge) dan pengalaman atau regulasi metakognitif (metacognitive experiences or regulation). Pengetahuan metakognitif menunjuk pada diperolehnya pengetahuan tentang proses-proses kognitif, pengetahuan yang dapat dipakai untuk mengontrol proses kognitif. Sedangkan pengalaman metakognitif adalah proses-proses yang dapat diterapkan untuk mengontrol aktivitas-aktivitas kognitif dan mencapai tujuan-tujuan kognitif. Kemampuan ini dilakukan melalui aksi-aksi diantara empat kelas fenomena, antara lain pengetahuan metakognisi, pengalaman-pengalaman metakognisi, tujuan atau tugas, dan aksi atau strategi (Kuntjojo, 2009: 1). Sementara itu, Livingstone (1997) mendefinisikan metakognisi sebagai thinking about thinking atau berpikir tentang berpikir. Metakognisi, menurutnya adalah kemampuan berpikir di mana yang menjadi objek berpikirnya adalah proses berpikir yang terjadi pada diri sendiri. Ada pula beberapa ahli yang mengartikan metakognisi sebagai thinking about thinking,, learning to think, learning to study, learning how to learn, learnig to learn, learning about learning (NSIN Research Matters lewat Kuntjojo, 2009: 1).
Pengetahuan metakognisi merupakan pengetahuan yang diperoleh siswa tentang proses-proses kognitif yaitu pengetahuan yang bisa digunakan untuk mengontrol proses-proses kognitif. Pengalaman metakognisi melibatkan strategi atau pengaturan metakognisi. Strategi metakognisi merupakan proses yang berurutan yang digunakan untuk mengontrol aktivitas kognitif dan memastikan bahwa tujuan kognitif telah dicapai. Proses ini terdiri dari:
1)        perencanaan yang meliputi penentuan tujuan dan analisis tugas. Aktivitas perencanaan akan mempermudah pengorganisasian dan pemahaman materi pelajaran,
2)        pemantauan yang meliputi perhatian seseorang ketika ia membaca dan membuat pertanyaan atau pengujian diri. Aktivitas pemantauan akan membantu siswa dalam memahami materi dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan awal, dan
3)        evaluasi atau pengaturan yang berupa perbaikan aktivitas kognitif siswa. Aktivitas ini akan membantu peningkatan prestasi dengan cara mengawasi dan mengoreksi perilakunya pada saat menyelesaikan tugas.
B.       Metakognisi dalam Pemahaman Membaca
Baker dan Brown (Tierney, dkk, 1980: 302) mengungkapkan hal yang sejalan dengan pemanfaatan kemampuan metakognisi yang sebenarnya dimiliki oleh seorang pembelajar. Mereka menyatakan bahwa pembaca efektif adalah individu yang memiliki kemampuan metakognisi, antara lain:
1)        menjelaskan tujuan membaca dengan memahami pertanyaan teks baik eksplisit maupun   implisit,
2)        mengidentifikasi aspek yang penting dari pesan teks,
3)        memberikan fokus perhatian pada kandungan pokok teks,
4)        memonitor aktivitas secara terus menerus untuk menetapkan ukuran kemampuan,
5)        melibatkan pertanyaan mandiri untuk menentukan apakah tujuan telah tercapai, dan
6)        melakukan langkah atau tindakan korektif  jika ada kegagalan yang ditemukan.
Pada sumber lain, pernyataan tentang strategi metakognisi ini didukung oleh Armbruster, Achols, and Brown (Vacca dan Jo Anne, 1989: 221) yang mengungkapkan sebelum pembelajar dapat menggunakan strategi belajar yang efektif dia harus sadar dan memperhatikan teks, tugas, dan diri sendiri, serta bagaimana dia akan berinteraksi dalam belajar. Sementara itu, Brown, Caverly & Orlando, Jenkins, Nist (Caverly, 1997: 28) mengemukakan model tetrahedral dalam belajar yang meliputi materi, diri, strategi, dan tugas.
Gambar 1. Model Tetrahedral Belajar (Caverly, 1997)






Dari bagan model tetrahedral di atas dapat diartikan bahwa aktivitas belajar tidak dapat terlepas dari empat komponen, yaitu diri pembelajar, materi belajar, strategi belajar, serta tugas. Diri pembelajar adalah pembaca yang dipengaruhi oleh beberapa faktor ketika membaca bacaan misalnya latar belakang pengetahuan, tingkah laku, minat, serta motivasi untuk memahami bahan bacaan. Materi belajar merupakan bahan bacaan atau teks bacaan yang memiliki struktur dan jenis yang berbeda-beda. Bahan bacaan dapat  mempengaruhi pembaca dalam memahami bacaan. Strategi belajar menyangkut perencanaan yang dilakukan sebelum membaca melalui pemilihan dan penerapan cara dan teknik membaca untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pengawasan (monitoring) sangat diperlukan dalam menerapkan strategi belajar. Sementara itu tugas merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan (Caverly, 1997: 28-33).
Karakteristik pembelajaran yang mendayagunakan kemampuan metakognisi pada umumnya belum terlihat pada proses pembelajaran di sekolah. Guru dianggap sebagai pemberi ilmu dan siswa berada dalam keadaan kosong sehingga siswa hanya menerima pengetahuan. Padahal, kemampuan yang ada dalam diri siswa sangat beragam dan jika dimanfaatkan dengan baik dapat membuat proses belajar lebih efektif, termasuk dalam membaca. Dalam Models of Teaching (Joyce dan Marsha, 1996: 51) disebutkan bahwa dalam metakognisi ada proses “letting the student in on the secret” sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuan dan kemampuan mereka, memutuskan strategi belajar apa yang akan digunakan, pemecahan masalah, dan menemukan sendiri ilmu yang akan dipelajari.
Metakognisi dalam membaca untuk studi diartikan sebagai pengetahuan pembelajar tentang strategi dan kemampuan untuk memperluas pengetahuan untuk memonitor proses membaca yang dilakukan (Vacca dan Jo Anne, 1989: 220). Siswa sebagai pembelajar yang mandiri senantiasa mengetahui mengapa, bagaimana, dan kapan mereka menggunakan strategi membaca. Dalam diri mereka  tumbuh kesadaran untuk mendiri dan menganalisis tujuan kegiatan membaca, mengidentifikasi apa yang sudah diketahui dan yang belum diketahui, merencanakan proses membaca agar terlaksana dengan baik, serta mengevaluasi hasil kegiatan membaca yang mereka lakukan.
Dalam sumber yang sama, Vacca dan Jo Anne (1989: 223) mengemukakan ada empat dasar kerja metakognisi dalam memahami teks berbagai bidang studi antara lain penilaian (assessment), kesadaran (awareness), model dan demonstrasi (modelling and demonstration), serta penerapan (application). Penilaian yang dilakukan akan membantu guru dalam mengetahui kemampuan siswanya. Kesadaran lebih mengarah kepada siswa agar sadar mengapa dan bagaimana strategi strategi belajar diterapkan. Sebagai tindak lanjut dari upaya penyadaran siswa maka diperlukan modeling dan demonstrasi oleh guru, penjelasan, praktik, serta penguatan prosedur, sedangkan penerapan lebih mengacu pada praktik-praktik yang dilakukan.
Metakognisi terdiri dari tiga elemen dasar (North Central Regional Educational Laboratory, 1995). Ketiga elemen tersebut antara lain menyusun rencana, memonitor rencana, dan mengevaluasi rencana. Dalam menyusun rencana, pembaca harus mengetahui apa yang akan dilakukan pertama kali sebelum membaca teks, mengapa membaca teks tersebut, berapa waktu yang akan digunakan untuk membaca, dan lain-lain. Pada kegiatan memonitor rencana pembaca harus sadar bagaimana kegiatan membaca dilakukan dan dimana posisi pemahaman membaca, apakah masih dalam level rendah, sedang, atau sudah benar-benar paham. Kemudian apa yang akan dilakukan jika belum memahami bacaan. Sementara itu, dalam mengevaluasi rencana pembaca harus sadar  mengenai kegiatan membaca yang telah dilakukan, apakah sudah baik atau belum, serta bagaimana mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dalam bidang atau masalah lain. Ketiga elemen ini merupakan kemampuan metakognisi yang membantu pembaca untuk mengetahui secara pasti posisi pembaca dalam kegiatan membaca yang dilakukan sehingga dapat digunakan sebagai upaya peningkatan pemahaman membaca.
C.      Membaca Teks Berbagai Bidang Studi
       Seluruh disiplin ilmu dalam segala bidang kehidupan akan tercapai eksistensinya melalui kegiatan membaca. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil sebab ilmu diperoleh paling banyak melalui kegiatan membaca. Manfaat dari kegiatan membaca sendiri ada pada penggunaannya. Keterampilan membaca harus dapat digunakan dalam berbagai disiplin ilmu untuk mempelajari materi yang berada di dalamnya. Membaca untuk belajar inilah yang sering disebut sebagai content area reading (Vacca dan Jo Anne, 1989: 3). Hal senada juga dikemukakan oleh Freeman (2000: 138) bahwa:

When students study academic subjects in nonactive language, they will need a great deal of assistance in understanding subject matter texts; therefore, there must be clear language objectives as well as content learning objectives.

(ketika siswa mempelajari materi nonbahasa, mereka harus memahami materi yang berupa teks; karena itu harus ada pemahaman bahasa sebagaimana memahami materi yang dipelajari).

Morgan, dkk (Syamsi: 2006: 225) menguraikan ada sepuluh prinsip pemahaman membaca dalam berbagai bidang studi. Kesepuluh prinsip itu antara lain:
1)        membaca dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman,
2)        seni berkomunikasi mengembangkan proses berpikir dan belajar dalam berbagai bidang pelajaran,
3)        kegiatan literasi tidak hanya berupa seni berkomunikasi tetapi juga visual literacy,
4)        membaca harus merupakan pengalaman yang berharga,
5)        praktik membaca kritik lebih memungkinkan berpikir dan belajar dapat diukur,
6)        kegiatan membaca bermakna harus dimulai sejak dini dan berlangsung seumur hidup,
7)        guru perlu menahan diri dari pengajaran yang semu
8)        semua siswa berhak mendapatkan pelajaran pada semua mata pelajaran yang memungkinkan mereka untuk belajar,
9)        guru harus menggunakan berbagai perangkat yang memungkinkan siswa menguasai mata pelajaran, serta
10)    pembelajaran membaca dalam berbagai mata pelajaran harus memungkinkan siswa menjadi pembelajar yang mandiri.
       Berbagai pendekatan, metode, maupun teknik dalam membaca harus senantiasa diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar di berbagai bidang ilmu atau pelajaran. Hal ini dapat menjadikan kegiatan belajar mengajar di kelas ataupun di luar kelas lebih efektif dan sekaligus menyenangkan. Gina (1987: 55) mengemukakan tentang betapa pentingnya mempelajari ilmu bahasa untuk diterapkan dalam upaya mempelajari berbagai materi dalam segala bidang. Kemampuan dan strategi membaca diaplikasikan dalam berbagai mata pelajaran untuk mempelajari materi pelajaran agar lebih efektif.
       Anderson, dalam Becoming a Nation of Readers (Cox, 1999: 272), merekomendasikan beberapa hal yang dapat digunakan untuk mengajarkan membaca, yakni sebagai berikut.
1)        Siswa diajak untuk memperoleh makna dari berbagai teks  mata pelajaran.
2)        Siswa diajak membaca keras.
3)        Aktivitas belajar memuat berbagai jenis pengalaman dan pengetahuan serta menggunakannya secara bersama-sama.
4)        Siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri teks atau buku yang akan dibaca
       Dalam mempelajari teks dari berbagai bidang studi, siswa dituntut untuk mengetahui makna teks bacaan agar dapat mengerjakan tugas, menganalisis tugas, membuat perencanaan dalam membaca, serta menggunakan strategi yang tepat dalam membaca. Hal ini dimaksudkan agar proses belajar mengajar khususnya membaca dan mempelajari ilmu dari berbagai bidang studi menjadi efektif dan siswa dapat melaksanakan proses pembelajaran mereka secara mandiri (Vacca dan Jo Anne, 1989: 218). Ada empat faktor yang sangat berpengaruh pada proses pembelajaran diantaranya karakteristik pembelajar atau siswa, materi yang diajarkan, strategi belajar dan membaca, serta tugas. Hal ini sejalan dengan bentuk tetrahedral yang dimukakan pada bagian sebelumnya.
Penutup
       Membaca merupakan suatu keterampilan berbahasa yang sangat penting sekali. Pembelajar yang baik adalah pembelajar yang mengetahui dan sadar atas proses yang dilakukan. Metakognisi dapat dipandang sebagai salah satu elemen yang penting sekali dalam mencapai tingkat pemahaman membaca. Pengetahuan tentang metakognisi dapat menuntun pembaca untuk mengetahui segala aspek yang dapat memperlancar proses membaca, yaitu dari fase sebelum membaca sampai apa yang akan dilakukan sesudah proses membaca selesai. Jadi, penting sekali untuk mempelajari dan mengetahui proses-psoses metakognisi.
       Studi tentang pentingnya metakognisi sebagai salah satu elemen untuk mempermudah dan memperlancar hendaknya senantiasa terus dikembangkan. Penelitian lebih lanjut untuk mengimplementasikan pengetahuan metakognisi dalam kegiatan membaca dapat memperkaya wawasan pembelajar sehingga analisis dan komparasi terhadap beberapa studi metakognisi dapat diketahui.

Daftar Pustaka

Cantoni-Harvey, Gina. 1987. Content Area Language Instruction: Approaches and Strategies. USA: Addison-Werley Publishing Company.

Caverly, David. 1997. Teaching Reading in a Learning Assistance Center University of Arizona, http://www.pvc.maricopa.edu/~lsche/proceeding/967-proc/967proc-caverly.htm. Diakses pada 15 Agustus 2008.

Cox, Carole. 1999. Teaching Language Arts. Boston: Allyn and Bacon.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolingusitik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Freeman, Diane Larsen. 2000. Techniques and Principles in Language Teaching. New York: Oxford University Press.          

Joyce, Bruce dan Marsha Weil. 1996. Models of Teaching. Mars: Allyn & Bacon.
Kuntjojo. 2009. “Metakognisi dan Keberhasian Belajar Peserta Didik” http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/12/metakognisi-dan-keberhasilan-belajar-peserta-didik/. Diakses pada 14 Agustus 2009.

Muisman. 2002. “Metakognisi”, Bab II Kajian Pustaka, 24-26. http://www. demandiri.or.id/file/muisman. Diakses pada 10 Agustus 2009.

North Central Regional Educational Laboratory. 1995. “Strategic Teaching and Reading Project Guidebook”, http://www.info@ncrl.org . Diakses pada 10 Agustus 2009.

Syamsi, Kastam. 2006. “Resensi Buku Reading to Learn in The Content Areas oleh Judy S. Richardson, Raymond E. Morgan, dan Charlene Flener”, Diksi,  edisi Juli 2006. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tierney, R. J., J. E. Readence, dan E. K. Dieshner. 1990. Reading Strategies and Practices: A Compendium III. Boston: Allyn and Bacon.

Vacca, Richard T. dan Jo Anne L. Vacca. 1989. Content Area Reading. London: Scott, Foresman and Company.

Wikipedia, Free Encyclopedia. 2008. “Metakognisi dan Keberhasilan Belajar Peserta Didik”. www.Encyclopedia.com. Diakses pada 10 Agustus 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar